Text
Opposite
Sunyi menyapa sebab jam beker di atas nakas telah menunjukkan pukul satu dini hari. Gerak jemari di keyboard laptop terhenti. Pemuda itu merasa tertarik saat telinga sensitifnya menangkap topik cerita yang disampaikan oleh seorang wanita random pengisi podcast Spotify.
“Kalo lagi ngomongin soal bunga keabadian, rasanya kebanyakan orang langsung menghubungi bunga edelweiss. Ada satu mitos tentang bunga ini yang dipercayai banyak orang. Konon katanya, edelweiss mampu membuat ikatan cinta yang ada pada dua orang manusia yang saling mencintai, menjadi sangat kuat dan cinta mereka akan abadi. Siapa pun yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka jalinan cinta yang sedang ia bangun tidak akan mudah berakhir.”
Varo dan Vara, sebagian kecil di antara ratusan mahasiswa yang merantau ke Malang untuk meraih gelar sarjana. Nama yang hampir sama tidak berarti mereka memiliki karakter yang sama. Varo dan Vara sering terjebak dalam satu tugas kelompok karena nomor absen yang berurutan. Tidak cukup disitu, mereka bahkan harus bertemu lagi dalam satu naungan yang sama di bawah organisasi himpunan mahasiswa jurusan.
Varo yang ambisius dan perfeksionis, harus bertemu dengan Vara yang tenggat waktu dan suka mengerjakan tugas seadanya. Varo yang ingin segera menyelesaikan pekerjaan, harus disatukan dengan Vara yang suka menyelesaikan-nunda pekerjaan. Keinginan Varo yang tidak pernah sejalan dengan keinginan Vara, seringkali menimbulkan konflik dan lama-kelamaan memupuk kebencian.
Namun, di antara banyaknya hal yang berlawanan pada diri mereka, masih ada segelintir kesamaan yang dimiliki. Yakni impian mereka yang sama-sama ingin lulus dalam waktu 3,5 tahun.
Akankah segelintir kesamaan itu bisa menjadi alasan untuk berdamai? Atau mereka memilih untuk selamanya hidup bagaikan air dan api?
Tidak tersedia versi lain